Implementasi Modifikasi Diet pada Penyakit Infeksi
-
Prinsip modifikasi diet paling banyak diterapkan melalui Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein
(TKTP), yang disesuaikan lagi konsistensi dan kandungan zat gizi mikronya.
Komponen Penyesuaian Standar Alasan Klinis pada Infeksi Energi (Kalori) Ditingkatkan (sekitar 10%-50% di atas normal) Melawan hipermetabolisme dan demam. Kebutuhan energi basal meningkat drastis seiring dengan kenaikan suhu tubuh. Protein Ditingkatkan secara signifikan (hingga 1.2 - 2.0 g/kgBB/hari) Menggantikan kehilangan protein akibat katabolisme, memperbaiki jaringan yang rusak, dan memproduksi antibodi/sel imun. Lemak Diberikan secara cukup (20%-30% total energi) Digunakan sebagai sumber energi padat kalori. Jenis MCT (Medium Chain Triglyceride) sering digunakan karena lebih mudah diserap tanpa empedu. -
Penyesuaian Zat Gizi Mikro dan Suplemen
Pada pasien infeksi, zat gizi mikro tertentu harus dipastikan kecukupannya karena berperan langsung dalam sistem imun:
- Zink (Zn): Penting untuk integritas kulit dan membran mukosa, serta fungsi limfosit T.
- Vitamin A: Berperan menjaga integritas epitel dan fungsi sel imun. Defisiensi umum pada infeksi campak.
- Vitamin C: Berfungsi sebagai antioksidan kuat dan mendukung fungsi sel fagosit.
Modifikasi Konsistensi Berdasarkan Gejala Gejala/Diagnosis Gizi Jenis Modifikasi Konsistensi Contoh Makanan Mual/Muntah Akut Makanan dingin, tidak berbau tajam, porsi kecil, dan saring/cair. Jus buah, kaldu jernih, teh manis hangat. Diare Akut/Tifoid Diet Rendah Sisa (Diet Saring/Lunak) untuk mengurangi stimulasi peristaltik usus. Nasi tim, bubur saring, roti bakar, sayuran tanpa serat kasar. Kesulitan Menelan (Disfagia) Makanan Cair Kental (thick liquid) atau Puree (bubur kental) untuk mencegah aspirasi. Nasi diblender (puree), daging cincang halus, susu kental.