Asuhan Gizi Pada Penyakit Hati dan Kandung Empedu

Intervensi Gizi

Setelah diagnosa gizi ditetapkan, langkah selanjutnya adalah intervensi gizi. Intervensi gizi yang direncanakan harus memiliki benang merah dengan diagnosa gizi yang telah ditetapkan, di mana P (Problem) pada diagnosa gizi mengarahkan tujuan intervensi, dan E (Etiologi) menentukan strategi intervensi gizi yang terdiri dari empat domain.

Secara umum, tujuan intervensi gizi pada penyakit hati adalah untuk mencapai atau mempertahankan status gizi optimal tanpa memberatkan fungsi hati. Tujuan intervensi disesuaikan dengan masalah gizi yang ada dan mencakup dukungan regenerasi sel, pemberian makanan dan cairan terbaik, memodifikasi frekuensi makan menjadi sering dengan porsi kecil untuk mengatasi anoreksia, serta menghindari pembatasan makanan kecuali alkohol.

Contoh Rencana Intervensi Gizi Berdasarkan Diagnosa Gizi
Diagnosa Gizi Intervensi Gizi
Problem: Gangguan utilisasi zat gizi Tujuan: Memberikan makanan sesuai kemampuan tubuh dengan gangguan metabolisme zat gizi
Etiologi: Penyakit hepatitis Strategi: Pemberian terapi diet hepatitis
Sign/Symptom: SGOT dan SGPT abnormal, bilirubin tinggi, tampak kuning -

Intervensi gizi terdiri dari empat domain, yaitu pemberian diet, edukasi gizi, konseling gizi, dan koordinasi.

Pemberian Diet (Preskripsi Diet) pada Penyakit Hepatitis

Sesuai dengan Penuntun Diet (2004), ketentuan diet untuk penderita hepatitis adalah sebagai berikut:

  1. Energi: Tinggi, yaitu 40–45 kalori per kilogram berat badan per hari untuk mencegah pemecahan protein.
  2. Protein: Agak tinggi (1.2–1.5 gram/kg berat badan) untuk mendukung anabolisme protein.
  3. Lemak: Cukup (20–25% dari total energi) dalam bentuk yang mudah dicerna atau emulsi. Bila ada gangguan utilisasi lemak (jaundice atau steatorrhea), maka:
    • Lemak dibatasi kurang dari 30% total energi.
    • Kurangi sumber lemak rantai panjang (Long Chain Triglycerides / LCT) dan gunakan lemak rantai sedang (Medium Chain Triglycerides / MCT) karena tidak membutuhkan aktivasi enzim lipase dan empedu. Penggunaan MCT perlu hati-hati jika ada risiko diare.
  4. Karbohidrat: Merupakan sisa dari total energi. Didistribusikan dalam porsi kecil tetapi sering untuk menghindari hipoglikemia dan hiperglikemia.
  5. Vitamin: Disesuaikan dengan tingkat defisiensi, dapat ditambahkan suplemen vitamin B kompleks, vitamin C, dan vitamin K bila perlu.
  6. Mineral: Diberikan sesuai kebutuhan. Bila perlu suplemen zat besi (Fe), seng (Zn), magnesium (Mg), kalsium (Ca), dan fosfor (P). Natrium (Na) dibatasi hingga 2 gram/hari bila terdapat edema atau asites.
  7. Cairan: Diberikan lebih dari kebutuhan normal kecuali ada kontraindikasi seperti edema atau asites.
  8. Bentuk makanan: Lunak (bila ada mual atau muntah) atau biasa sesuai toleransi pasien.
  9. Rute pemberian: Disesuaikan dengan kondisi pasien (oral, enteral, atau parenteral).
  10. Pemilihan bahan makanan:
    • Dibatasi: Sumber lemak seperti daging berlemak dan bahan yang mengandung gas seperti ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak, ketimun, durian, dan nangka.
    • Tidak dianjurkan: Makanan atau minuman yang mengandung alkohol, teh, dan kopi kental.

Contoh preskripsi gizi: Diet 1500 kalori, 30 gram protein, 184 gram karbohidrat, 60 gram lemak, cairan 750 ml. Batasi bahan makanan sumber lemak dan gas, serta makanan mengandung kafein. Pemberian makan dilakukan enam kali per hari dengan porsi kecil melalui rute oral.

Intervensi Gizi Domain Edukasi, Konseling, dan Koordinasi

  1. Edukasi Gizi: Memberikan motivasi, informasi, dan kerja sama dengan pasien untuk mencapai tujuan terapi diet.
  2. Konseling Gizi: Merancang bersama pasien modifikasi diet (jumlah, jenis, dan cara pemenuhan kebutuhan zat gizi) agar tercapai status gizi optimal.
  3. Koordinasi Gizi: Melakukan konsultasi, rujukan, atau kerja sama dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian asuhan gizi bagi pasien hepatitis untuk memastikan efektivitas terapi.