Asuhan Gizi Pada Penyakit Hati dan Kandung Empedu

Asuhan Gizi pada Penyakit Hati

Hati merupakan organ yang penting dalam metabolisme, penyimpanan dan distribusi zat gizi. Gizi dan penyakit hati adalah dua kondisi yang saling berkaitan. Pada penyakit hati baik akut maupun kronis, perlu diperhatikan pemberian gizi yang optimal. Pengelolaan gizi yang optimal akan menurunkan komplikasi dan memperbaiki morbiditas dan mortalitas pada penyakit hati (Sucher and Mattfeldt-Beman, 2011).

Untuk memahami peran gizi dalam penatalaksaan penyakit hati, Anda perlu memahami anatomi dan fisiologi hati. Gambar berikut menunjukkan anatomi hati.

Anatomi Hati dan Sistem Bilier
Anatomi Hati dan Sistem Bilier
Sumber: S. Rolfes, K. Pinna, and E. Whitney. Understanding Normal and Clinical Nutrition, 7e, p. 770. 2006. dalam Sucher and Mattfeldt-Beman. Diseases of the Liver, Gallbladder, and Exocrine Pancreas: Nutrition Therapy and Pathophysiology. 2e. 2011. Hal. 439

Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia. Bertekstur lunak, lentur. Terletak di rongga perut kanan atas di bawah kerangka iga bagian atas cavitas abdominalis tepat di bawah diaphragma, berat 1,2 – 1,8 kg (2-3% berat badan). Hati mempunyai peran penting karena merupakan regulator dari semua metabolisme karbohidrat, protein & lemak. Tempat sintesa dari komponen protein, pembekuan darah, kolesterol, ureum & zat-zat lain yang sangat vital. Mempunyai tempat pembentukan dan penyaluran asam empedu, pusat detoksifikasi racun dan penghancuran (degradasi) hormon-hormon thyroid (misal estrogen)

Hati mempunyai fungsi yang sangat beraneka ragam, yaitu fungsi dalam metabolisme, penyimpanan dan pendistribusian zat gizi. Sirkulasi vena porta memegang peranan penting dalam fisiologi hati, terutama dalam hal metabolisme karbohidrat, protein dan asam lemak. Fungsi utama hati adalah berperan dalam pembentukan dan ekskresi empedu. Hati mengekskresi empedu sekitar satu liter ke dalam usus halus per harinya. Unsur utama dari empedu adalah air (sebanyak 97%), elekstrolit dan garam empedu. Walaupun bilirubin yang merupakan pigmen empedu adalah hasil akhir dari metabolisme dan secara fisiologis tidak memiliki peran yang aktif, tetapi pigmen empedu penting sebagai indikator penyakit hati dan saluran empedu. Hal ini dikarenakan bilirubin memberi warna pada jaringan dan cairan yang berhubungan dengannya.

Fungsi Hati

1. Metabolisme Zat Gizi

Hati berperan penting dalam metabolisme karbohidrat, asam-asam amino, protein, kolesterol dan asam empedu. Pada metabolisme Karbohidrat, hati berfungsi menyimpan glikogen dalam jumlah besar, mengkonversi galaktosa dan fruktosa menjadi glukosa, proses Glukoneogenesis dan membentuk banyak senyawa kimia yang penting dari hasil perantara metabolisme karbohidrat.

Pada metabolisme lemak, hati berfungsi mengoksidasi asam lemak untuk menyuplai energi bagi fungsi tubuh yang lain, membentuk sebagian besar kolesterol, fosfolipid dan lipoprotein, serta membentuk lemak dari protein dan karbohidrat. Pada metabolisme asam empedu, hati berfungsi mentransformasi kolesterol menjadi 7- hydroxycholesterol asam kolat dan asam kenodeoksikolat.

Pada metabolisme heme, heme dioksidasi menjadi biliverdin, yang kemudian dikurangi untuk bilirubin; bilirubin diangkut ke hati di mana ia dikonversi menjadi diglucuronide bilirubin untuk dibuang dengan pigmen empedu

Pada metabolisme vitamin, hati berperan dalam pembentukan asetil CoA dari asam pantotenat, hidroksilasi vitamin D untuk 25-OH D3, pembentukan 5-metil Asam tetrahydrofolic (THFA), metilasi niacinamide, fosforilasi pyridoxine, defosforilasi thiamin serta pembentukan koenzim B12.

2. Regulasi Kadar Gula Darah

Hati memproduksi dan menggunakan glukosa untuk menjaga kestabilan kadar gula darah dalam tubuh.

3. Detoksifikasi

Hati mendetoksifikasi produk sisa metabolisme seperti amonia (diubah menjadi urea untuk diekskresikan melalui urin), serta bahan asing seperti obat dan toksin.

4. Pencernaan Lemak

Hati membantu pencernaan lemak dengan memproduksi dan ekskresi garam empedu yang akan mengemulsi lemak, sehingga dapat dicerna dengan baik.

5. Aktivasi Vitamin dan Mineral

Hati merubah karoten menjadi vitamin A; merubah folat menjadi asam 5-methyl- tetrahidrofolat, dan merubah vitamin D menjadi bentuk 25-hydroxycholecalciferol yang mudah diabsropsi.

6. Penyimpanan Zat Gizi

Hati menyimpan cadangan karbohidrat dalam bentuk glikogen, dan mineral (Fe, Zn, Co, Mg), serta vitamin B12.

7. Metabolisme Enzim

Hati mensintesa enzim-enzim alkaline phosphatase, mono-amine oxidases (MAOs), acetylcholine, oxidases, cholesterol esterase, dehydrogenases, beta glucuronidase, glutamic oxalacetic transaminase (SGOT/AST), dan glutamic pyruvic transaminase (SPGT/ALT)

8. Metabolisme Heme

Heme dioksidasi menjadi biliverdin kemudian diubah menjadi bilirubin; bilirubin di transportasi ke hati dan dirubah menjadi bilirubin diglucuronide untuk diekskresikan bersama dengan pigmen empedu.

Tidak seperti organ padat lainnya, hati orang dewasa mempunyai kemampuan beregenerasi. Ketika kemampuan sel-sel hati untuk beregenerasi sudah terbatas, maka sekelompok sel pluropotensial oval yang berasal dari duktulus-duktulus empedu akan berproliferasi sehingga terbentuk kembali sel-sel hati (hepatosit) dan sel-sel bilier yang tetap mempunyai kemampuan untuk beregenerasi. Dari penelitian hewan ditemukan bahwa hepatosit tunggal tikus dapat mengalami pembelahan hingga sekitar 34 kal , atau memproduksi jumlah sel yang mencukupi untuk membentuk 50 hati tikus. Dengan demikian dapat dikatakan sangat mungkin untuk melakukan hepatektomi atau pemotongan hati sehingga 2/3 dari seluruh hati (Amiruddni, 2011).

Hati juga mempunyai fungsi imunologi, karena hati merupakan komponen sentral sistem imun. Sel Kupffer, yang meliputi 15% dari massa hati serta 80% dari total populasi fagosit tubuh, merupakan sel yang sangat penting dalam menanggulangi antigen yang berasal dari luar tubuh kita (Amiruddni, 2011).

Untuk melihat fungsi hati apakah masih normal atau sudah mengalami gangguan dapat dilakukan dengan tes fungsi biokimia hati. Pemeriksaan kimia darah digunkaan untuk mendeteksi kelainan hati, menentukan diagnosis, mengetahui berat ringanya penyakit dan mengikuti perjalanan penyakit dan penilaian hasil pengobatan, termasuk terapi diet yang diberikan. Tabel berikut akan menunjukkan tes fungsi hati.

Tes Fungsi Hati
Petanda Nilai Normal Interpretasi
Bilirubin 5–18 µmol/L Tidak spesifik untuk penyakit hati, dapat meningkat pada hemolisis dan obstruksi bilier. Jika berdiri sendiri, pertimbangkan hiperbilirubinemia herediter.
SGOT/AST 5–40 IU/L Meningkat sesuai inflamasi atau nekrosis hepatosit. Rasio AST:ALT > 2 cenderung ke hepatitis alkoholik.
SGPT/ALT 5–35 IU/L Meningkat pada kerusakan hepatosit.
Fosfatase Alkali 30–130 IU/L Meningkat pada kolestasis, obstruksi bilier, atau infiltrasi hepatik. Juga diproduksi oleh tulang, usus, dan plasenta.
Ŷ-GT 5–50 IU/L Meningkat pada penyakit hati atau konsumsi alkohol berlebihan.
Albumin 3.5–4.5 g/dL Menunjukkan fungsi sintesis hati. Dapat menurun pada malabsorpsi, luka bakar, penyakit kritis, atau sindrom nefrotik.
LDH (Lactate Dehydrogenase) 240–524 IU/L Sensitivitas rendah untuk penyakit hati. Mungkin meningkat pada hepatitis iskemik atau hemolisis.
Sumber: Amirudin. 2014. Fisiologi dan Biokimia Hati: Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Internal Publishing. Hal. 1931.

Sirkulasi Darah Hati

Setelah mengetahui fungsi hati, perlu juga diketahui sirkulasi darah dari dan ke hati. Gambar berikut menunjukkan bagaimana sirkulasi darah yang melibatkan hati di dalamnya.

Sirkulasi Darah dari dan ke Hati
Sirkulasi Darah dari dan ke Hati
Sumber: Sherwood L. Human Physiology From Cell to System. 7e. 2010. dalam Sucher and Mattfeldt-Beman. 2011. Diseases of the Liver, Gallbladder, and Exocrine Pancreas: Nutrition Therapy and Pathophysiology. 2e. Hal. 440