Asuhan Gizi Pada Pasien Penyakit Saluran Cerna Atas dan Bawah
Saluran Cerna Bawah

Penyakit Pada Saluran Cerna Bawah

Masalah saluran cerna bawah yang umum terjadi adalah gas intestinal, flatulen, konstipasi, dan diare. Sedangkan penyakit pada saluran cerna bawah adalah penyakit seliak, penyakit usus inflamatorik, dan penyakit divertikular.


A. Gas Intestinal dan Flatulen

Volume gas intestinal manusia sehari-hari sekitar 200 ml, dan berasal dari proses fisiologis kompleks, termasuk menelan udara (aerophagia) dan fermentasi bakteri oleh saluran cerna.

Gas-gas ini dikeluarkan melalui sendawa (eructation) atau melalui rectal (flatus). Gas yang termasuk gas intestinal adalah carbon dioxide (CO2), oxygen (O2), nitrogen (N2), hydrogen (H2), dan kadang methane (CH4).

Ketika pasien mengeluh flatulens, ini dapat diterjemahkan sebagai peningkatan volume atau frekuensi sendawa atau gas di rektal. Pasien juga mungkin mengeluhkan distensi abdomen, kram berhubungan dengan akumulasi gas pada saluran cerna atas dan bawah. Jumlah udara yang tertelan meningkat dengan makan atau minum terlalu cepat, merokok, makan permen karet, menyedot permen keras, menggunakan sedotan, minum minuman berkarbonat, atau memakai gigi palsu yang longgar. Makanan yang memproduksi gas dapat berbeda pada individu yang berbeda, tergantung pada mikroorganisme kolon individu tersebut. Tidak aktif, penurunan motilitas, aerophagia, komponen makanan, dan gangguan saluran cerna tertentu dapat merubah jumlah gas intestinal dan gejalanya.


B. Konstipasi

Konstipasi didefinisikan sebagai kesulitan defekasi dimana terjadi penurunan pergerakan kolon atau disertai dyschezia (nyeri, keras, atau tidak tuntas). Frekuensi normal defekasi antara 3 kali per hari sampai dengan 3 kali per minggu (Cresci and Escuro, 2017).

Konstipasi disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor sistemik dan gangguan gastrointestinal. Berikut adalah penyebab konstipasi yang sistemik: konstipasi efek samping obat (seperti narkotika), abnormalitas metabolik endokrin (seperti hipotiroidism, uremia dan hiperkalsemia), kurang berolahraga/aktifitas, mengabaikan keinginan defekasi, penyakit vaskular dari usus besar, penyakit systemic neuromuscular yang menyebabkan defisiensi voluntary muscles, diet rendah serat, dan kehamilan. Konstipasi juga dapat terjadi karena adanya gangguan pada gastrointestinal. Gangguan gastrointestinal tersebut meliputi penyakit seliak, ulkus peptikum, kanker lambung, penyakit usus besar, irritable bowel syndrome, hemorrhoid, dan penggunaan laksatif yang salah.


C. Diare

Menurut Simadibrata dan Daldiyono (2014) diare adalah buang air besar dengan feses berbentuk cair atau setengah padat, dengan kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Atau dapat didefinisikan dengan buang air besar encer lebih dari lebih dari 3 kali per hari yang dengan/tanpa disertai lendir dan darah. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 25 hari. Sedangkan diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari.

Diare terjadi ketika isi intestin mengalami percepatan melewati usus halus, penurunan pencernaan makanan oleh enzim serta penurunan absorpsi cairan dan zat-zat gizi. Diare berhubungan dengan penyakit peradangan, infeksi fungal, bakteri, atau virus, obat-obatan, konsumsi gula atau substansi osmotik lain yang berlebih, respon alergi terhadap makanan, atau kerusakan area absorpsi dari mukosa.

D. Penyakit Seliak

Penyakit seliak disebut juga gluten-sensitive enteropathy. Penyakit ini disebabkan karena reaksi autoimun terhadap gliadin (ditemukan pada gluten) yang menyebabkan kerusakan pada vili mukosa usus menjadi atrophy dan flattening (seperti Gambar 3.8). Penyakit seliak perpotensi atau menyebabkan malabsorpsi semua zat gizi. Kondisi ini dapat disertai dengan dermatitis herpetiformis, anemia, kehilangan tulang, kelemahan otot, polyneuropathy, dan follicular hyperkeratosis.

Penyakit Seliak
Mikrovili normal dan mikrovili atropi dan flattening (penyakit seliak)
Sumber: Nelms. 2011. Disease of the Lower Gastrointestinal Tract. Krause’s: Food and the Nutrition Care Process. 2nd.ed. Australia: Wadsworth. Hal. 403.
Gejala penyakit seliak

Gejala klinis klasik dari penyakit seliak meliputi diare, nyeri dan kram abdomen, kembung, dan produksi gas. Gejala lain dapat terjadi di luar saluaran cerna, termasuk nyeri tukang dan sendi, kram otot, fatigue, neuropati perifer, kejang, bintik merah pada kulit, dan luka di mulut. Namun sebagian pasien tidak mengalami tanda dan gejala gastrointestinal klasik. Sebagian pasien juga mengalami anemia gizi besi, fatigue kronik, konstipasi, dan irritable bowel syndrome (Nelms, 2011).


E. Penyakit Inflamasi Usus (Inflammatory Bowel Diseases)

Peradangan terutama pada ileum dan usus besar, dengan gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen, berat badan berkurang, nafsu makan berkurang, demam, dan kemungkinan terjadi steatorea (adanya lemak dalam feses). Penyakit ini dapat berupa kolitis ulseratif dan penyakit Crohn’s .

Faktor Infeksi : Infeksi virus, bakteri atau parasit dari makanan, minuman atau tangan yang kotor, umumnya : Shigella, E. Coli, Salmonella dan Campylobacter. Amuba juga dapat menyebabkan kolitis (menyebabkan diare berdarah, demam dan dehidrasi) dan Parasit : Giardia. Faktor imunologik memberikan manifestasi ekstraintestinal, seperti : artritis. Faktor psikologi, stres psikologi mayor (misal: kehilangan anggota keluarga), rentan terhadap stres emosi yang dapat merangsang penyakit kolitis

Penyakit ulseratif kolitif hanya melibatkan kolon dan memanjang sampai rektum. Jika penyakit berlanjut dapat menyebabkan tidak ada area yang tidak terkena. Mukosa kolon mengalami radang dan bisa menjadi ulkus ringan atau striktur. Pada penyakit ini sering terjadi pendarahan rektum dan diare berdarah. Jika sudah semua are terkena, sering kali kolon akan diangkat/dipotong.

Penyakit ini memberikan tanda dan gejala meliputi diare berdarah, nyeri abdomen (nyeri bertambah saat diare, kemudian berkurang), seringkali demam menggigil dan tanda- tanda infeksi lain (sesuai penyebab kolitisnya). Pada penyakit ini juga memberikan gejala dimana feses mengandung sedikit darah (kasus ringan), kembung dan peningkatan udara usus. Pada kasus yang berat penurunan berat badan.


F. Penyakit Crohn’s

Jika peradangan yang terjadi pada penyakit ulseratif kolotis di atas, pada penyakit Crohn’s melibatkan lebih banyak bagian saluran cerna, yaitu dari mulut sampai anus. Secara tipikal melibatkan usus halus dan usus besar secara segmental dan mengenai seluruh lapisan mukosa. Mukosa tersebut dapat mengalami inflamasi, ulkus, abses, fistula, fibrosis, penebalan submukosa dan luka parut yang dapat menyebabkan penyempitan atau obstruksi sebagian bahkan seluruhnya. Dengan kondisi yang demikian pembedahan multipel umum terjadi dengan reseksi intestin. Penyakit ini menyebabkan malabsorpsi cairan dan zat gizi, sehingga mungkin membutuhkan dukungan gizi parenteral untuk mempertahankan asupan gizi yang adekuat dan untuk hidrasi.


G. Diet Penyakit Divertikular

Penyakit divertikular terdiri dari penyakit divertikulosis dan divertikulitis. Penyakit Divertikulosis yaitu adanya kantong-kantong kecil yang terbentuk pada dinding kolon yang terjadi akibat tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi kronik. Hal ini terjadi pada usia lanjut yang makannya rendah serat. Penyakit divertikulitis terjadi bila penumpukan sisa makanan pada divertikular menyebabkan peradangan. Gejala dari penyakit ini meliputi kram pada bagian kiri bawah perut, mual, kembung, muntah, konstipasi atau diare, menggigil, dan demam. Gambar di bawah memperlihatkan kolon yang normal dan kolon dengan kantung- kantung divertikulosis.

divertikulosis
Kolon normal dan kolon dengan kantung-kantung divertikulosis