Asuhan Gizi Pada Pasien Penyakit Saluran Cerna Atas dan Bawah
Saluran Cerna Atas

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas

Banyak gangguan atau penyakit yang dapat terjadi pada saluran cerna bagian atas. Beberapa gangguan atau penyakit yang sering ditemukan pada bagian esofagus adalah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan disfagia. Beberapa masalah pada lambung yang sering dialami oleh banyak orang adalah indigesti atau dispepsia, nausea/mual dan muntah, gastritis, serta ulkus peptikum. Berikut uraian mengenai gangguan atau penyakit pada saluran cerna atas.


A. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

GERD terjadi sebagai hasil dari refluks atau kembalinya isi gaster (lambung) ke esofagus. Lower esophageal sphincter (LES) secara normal berfungsi sebagai penghalang antara esofagus dan lambung. Tanda dan gejala berhubungan dengan refluks asam lambung dan pepsin, dan terjadi selama relaksasi LES. Periode ini terjadi diluar periode menelan dan dapat distimulasi oleh adanya makanan di lambung setelah makan.

Penyebab (Etiologi) GERD bersifat multifaktor dan dapat melibatkan faktor fisik maupun gaya hidup. Faktor-faktor yang dapat menurunkan tekanan LES antara lain:

  • Peningkatan sekresi hormon gastrin, estrogen, dan progesteron.
  • Kondisi medis seperti hiatal hernia, scleroderma, atau obesitas.
  • Kebiasaan merokok.
  • Penggunaan obat-obatan seperti dopamin, morfin, dan theophylline.
  • Makanan tertentu: tinggi lemak, coklat, peppermint, alkohol, dan kafein.

Gejala: disfagia (kesulitan menelan), heartburn (rasa panas terbakar di dada), peningkatan produksi saliva, dan bersendawa. Pada beberapa kasus, nyeri dapat menjalar ke punggung, leher, atau rahang — mirip gejala penyakit jantung. Gejala biasanya memburuk pada malam hari saat berbaring.

Komplikasi: gangguan menelan, aspirasi isi lambung ke paru-paru, ulkus, perforasi, dan striktur di esofagus.

Tujuan terapi GERD:

  1. Meningkatkan kemampuan LES.
  2. Menurunkan keasaman lambung untuk mengurangi gejala.
  3. Meningkatkan pengosongan makanan di esofagus.

Pembedahan dapat diperlukan bila komplikasi berat terjadi atau obat-obatan tidak efektif.


B. Disfagia

Disfagia adalah kesulitan menelan yang dapat disebabkan oleh berbagai gangguan. Gejala tergantung dari fase menelan yang terlibat. Bila masalah terjadi pada fase oral preparasi, makanan dapat tersimpan di area pipi karena penderita tidak dapat menggerakkan bolus makanan ke belakang. Gejala umum lainnya meliputi air liur berlebih, batuk, dan tersedak.

Banyak penderita disfagia mengalami penurunan berat badan dan malnutrisi karena asupan gizi yang tidak adekuat. Aspirasi (masuknya makanan atau cairan ke paru-paru) merupakan komplikasi utama yang dapat menyebabkan aspiration pneumonia. Karena itu, dukungan gizi melalui makanan enteral sering direkomendasikan.

Penanganan disfagia melibatkan tim multidisiplin: dokter, perawat, terapis wicara, dietisien, terapis fisik, dan terapis okupasi.


C. Indigesti

Indigesti atau dispepsia bukanlah satu penyakit khusus, melainkan kumpulan gejala seperti nyeri perut, rasa penuh, bergas, kembung, bersendawa, mual, atau refluks gastroesofageal.


D. Nausea/Mual dan Muntah

Nausea adalah sensasi tidak nyaman yang menandakan keinginan untuk muntah. Muntah adalah keluarnya isi lambung melalui mulut akibat kontraksi otot perut dan diafragma.


E. Gastritis

Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang dapat terjadi akibat berbagai kondisi. Mukosa lambung normalnya terlindungi oleh mukus, yang berfungsi sebagai penghalang terhadap asam. Gastritis akut dapat disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori, keracunan makanan, alkohol, atau obat nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs).

Gejala gastritis antara lain bersendawa, anoreksia, nyeri perut, muntah, dan pada kasus berat dapat terjadi perdarahan (hematemesis).

Jenis Gastritis Kronis:

  • Tipe A: melibatkan fundus, bersifat autoimun, menghasilkan antibodi terhadap sel parietal, dan sering disertai anemia pernisiosa.
  • Tipe B: disebabkan oleh atrofi mukosa lambung dan infeksi H. pylori.

Gastritis kronis sering meningkat seiring usia dan dapat menyebabkan achlorhydria yang berdampak pada malabsorpsi vitamin B12, zat besi, dan kalsium.


F. Penyakit Ulkus Peptikum (UP)

Ulkus Peptikum adalah luka atau borok pada mukosa lambung atau duodenum yang menembus hingga lapisan submukosa. Ulkus biasanya terjadi di antrum lambung atau awal duodenum. Sekitar 92% ulkus duodenum dan 70% ulkus lambung disebabkan oleh H. pylori.

Faktor lain yang berkontribusi:

  • Penggunaan obat NSAIDs (seperti ibuprofen) atau alkohol.
  • Kelebihan hormon steroid (glucocorticoid).
  • Penurunan suplai darah ke mukosa (merokok, stres, atau syok).
  • Makanan yang merangsang sekresi asam lambung.

Gambar berikut menunjukkan ulkus pada lambung dan duodenum yang telah menembus lapisan submukosa.

Ulkus Peptikum
Ulkus Peptikum
Sumber: Atlas of Gastrointestinal Endoscopy, www.EndoAtlas.com