Asuhan Gizi Pada HIV/AIDS

Penatalaksanaan HIV/AIDS

Terapi obat/medikamentosa

Pemberian terapi obat pada pasien HIV/AIDS bukan semata-mata ditujukan pada virus HIV saja melainkan ditujukan pula untuk komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi adalah hiperglikemi, hipertensi, perubahan komposisi tubuh, pankreatitis, penyakit ginjal dan hati, hypothyroid, hipogonadisme, osteopenia, menurunnya CD4, meningkatnya beban virus dan mental disfungsi. Terapi obat yang biasa diberikan pada pasien HIV /AIDS secara umum yaitu:

  1. Obat Antiretroviral (ARV), terapi yang berfungsi menghambat virus dalam merusak sistem kekebalan tubuh.

    Obat-obatan tersebut diberikan dalam bentuk tablet yang dikonsumsi setiap hari. Contoh obatnya adalah tenofoir, retrovir, videx dan lain-lain. Obat-obat ini membawa efek samping diantaranya diare, mual, muntah, lipodystrophy, dyslipidemia, dan gangguan insulin.

  2. Obat untuk meningkatkan imunitas seperti interleukin 2 dan interferon, dan beberapa suplemen vitamin dan mineral seperti vitamin C, A, E dan selenium.
  3. Obat terapi antibiotik diberikan jika ada infeksi oppurtinistik, dan infeksi lain seperti TBC ,hepatitis dan prophylaxis
  4. Obat untuk menanggulangi penyulit: agen penurunan lemak, agen anti diabetes; agen anti hipertensi, stimulan nafsu makan; dan terapi pengganti hormon;
  5. Vaksin yang terkait dengan penyakit oppurtunistik. Contoh vaksinasi yang sebaiknya dilakukan adalah vaksin flu setiap tahun, vaksin pneumokokus lima tahun sekali.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah interaksi obat dengan makanan. Oleh karena menanyakan pada pasien HIV tentang obat-obat apa saja yang dikonsumsi termasuk vitamin dan suplemen sangat perlu. Interaksi zat gizi dengan obat dapat merugikan efektififas kerja dari obat maupun zat gizi. Sebagai contoh pasien minum jus buah bersamaan dengan obat protease inhibitor yang keduanya bersaing memerlukan enzim yang sama, maka efeknya efektifitasnya obat menjadi rendah atau pemenuhan zat gizi terganggu.

Asuhan Gizi

Telah diuraikan diatas, bahwa asuhan gizi sama pentingnya dalam menekan agar pasien tidak cepat menjadi AIDS. Oleh karena itu tujuan memberikan asuhan gizi antara lain mengoptimalkan status gizi dan kesehatan serta imunitas; mempertahankan/mencapai BB normal dan mempertahankan massa otot polos; mencegah defisiensi zat gizi dan menurunkan resiko terhadap penyulit/komplikasi baru (diare, intoleransi laktosa, mual, muntah) serta memaksimalkan keefektifan intervensi obat.

Asuhan gizi pada pasien HIV/AIDS sebaiknya dilakukan individual dan perlu diberikan konseling untuk mengetahui kebutuhan gizi yang diperlukan. Strategi yang terbaik dalam melakukan asuhan gizi pada pasien HIV/AIDS dengan pendekatan ADIME (Assesment, Diagonosa gizi, Intervensi gizi, Monitoring dan Evaluasi). Namun sebelum melakukan terapi gizi sebaiknya dilakukan skrining gizi untuk mengetahui apakah pasien pada posisi beresiko malnutrisi atau hanya memerlukan intervensi biasa. Pasien HIV sangat erat dengan kondisi malnutrisi.

a. Assesment

Pengkajian gizi yang utama adalah mengetahui diagnosa medis lengkap dengan stadiumnya. Oleh karena itu identifikasi hasil laboratorium pasien lebih penting dari pada keluhan pasien. Hal lain yang perlu diidentifikasi adalah penyakit penyerta maupun riwayat penyakit sebelumnya seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, dan infeksi opurtunistik yang ada misalnya TBC, sariawan dan lain-lain. Hasil laboratorium atau hasil pemeriksaan biokimia yang perlu dicermati adalah nilai CD4; beban virus, albumin, haemoglobin, status zat besi, profil lipid, fungsi liver, fungsi ginjal, glukosa, insulin, kadar vitamin dalam darah.

Adapun kondisi fisik/antropometri yang perlu diperhatikan adalah perubahan berat badan. Oleh karena itu perlu ditanyakan bagaimana berat badan 3-6 bulan yang lalu. Pengukuran antropometri yang perlu dilakukan adalah lingkar lengan, dan lingkar pinggang. Gejala klinis yang perlu ditanyakan adalah apakah ada kesemutan, mati rasa/baal, dan kekakuan.

Riwayat diet atau riwayat makan yang perlu digali adalah kebiasaan makan saat ini, bagaimana penyediaan makan hari-hari, apakah ada riwayat alergi, bagaimana penggunaan suplemen, dan jenis obat yang diminum. Dengan demikian dapat diidentifikasi kemungkinan kekurangan zat gizi dan faktor penyebabnya. Faktor lain yang perlu digali adalah kondisi personal misalnya kondisi sosial ekonomi, karena kondisi ini juga sangat menentukan jenis makanan dan cara pengolahannya serta kemampuan daya beli obat (obat relatif mahal). Hal yang sering ditemui adalah pasien kurang memperhatikan makanan, karena dana terpusatkan pada obat atau sebaliknya. Informasi riwayat diet jika sulit diperoleh dari pasien dapat diperoleh dari pengasuhnya atau teman/kerabat dekatnya.

b. Diagnosa gizi

Secara umum pasien HIV sering mengalami masalah gizi kurang, maka diagnosa gizi pada pasien HIV biasanya adalah

  1. Asupan makan dan minum secara oral kurang
  2. Meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi
  3. Gangguan menelan
  4. Berubahnya fungsi saluran cerna
  5. Kegemukan/obesitas
  6. Pengetahuan yang rendah berkaitan dengan makanan dan gizi
  7. Kelebiahan asupan dari suplemen
  8. Kemampuan menyiapkan makanan rendah
  9. Kesulitan akses terhadap bahan makanan
  10. Asupan makanan yang tidak bersih/aman

c. Intervensi Gizi

Pelaksanaan intervensi gizi sesuai dengan proses asuhan gizi terstandar dimulai dengan menetapkan tujuan, dilanjutkan dengan pemberian preskripsi diet lengkap dengan syarat-syarat diet serta edukasi atau konseling. Intervensi gizi diuraikan berdasarkan tahapan atau stadium HIV, yaitu stadium I, II, III, dan IV.

1) Stadium I

Tujuannya adalah mempertahankan status gizi optimal dan mengoreksi defisiensi zat gizi yang terjadi. Syarat dietnya meliputi energi dan protein tinggi, yaitu sekitar 110% di atas kebutuhan normal. Sebagai contoh, jika kebutuhan normal 1700 kkal dan protein 45 g, maka menjadi 1900 kkal dengan protein 50 g (dibulatkan).

Pasien perlu diberikan suplementasi vitamin seperti vitamin C, B12, B6, asam folat, serta mineral zat besi, seng, dan tembaga untuk membantu membangun sistem imunitas. Suplementasi tidak perlu dalam mega dosis, cukup sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Hal penting lainnya adalah menjaga keamanan pangan. Bahan makanan termasuk air harus bebas dari cemaran bakteri atau mikroba agar tubuh terhindar dari infeksi oportunistik. Perhatikan kebersihan saat penanganan, penyimpanan, persiapan, dan penyajian makanan. Hindari sayur atau buah mentah, telur mentah/setengah matang, makanan kaleng, serta makanan awetan.

Petunjuk Persiapan dan Penyimpanan Makanan Aman:
  • Hindari bahan makanan sumber protein yang tidak matang seperti telur mentah, sushi, atau daging matang rendah.
  • Jangan gunakan telur yang pecah atau kaleng yang penyok.
  • Cairkan daging beku di dalam lemari pendingin, bukan pada suhu ruang.
  • Gunakan susu yang sudah dipasteurisasi.
  • Simpan makanan panas pada suhu 60–83°C.
  • Simpan makanan dingin pada suhu -1 hingga 4°C.
  • Jangan konsumsi makanan yang berada pada suhu 6–60°C lebih dari 2 jam.
  • Segera simpan bahan makanan mudah rusak ke dalam lemari pendingin.
  • Simpan makanan yang sudah dibuka dalam wadah kedap udara.
2) Stadium II / III

Tujuan intervensi pada stadium ini adalah mengurangi gejala dan komplikasi seperti anoreksia, nyeri esofagus, sariawan, malabsorpsi, serta komplikasi saraf. Pada tahap ini sudah muncul tanda-tanda infeksi oportunistik, sehingga kebutuhan energi (BMR) dinaikkan 20–50% untuk dewasa maupun anak-anak.

Protein ditingkatkan 10% dari kebutuhan normal, kecuali pada pasien dengan penyakit penyerta seperti sirosis, gangguan ginjal, atau pankreatitis, di mana kebutuhan protein perlu disesuaikan.

Zat gizi mikro (vitamin dan mineral) juga sangat penting untuk mendukung sistem imun. Defisiensi vitamin A, B12, dan seng berhubungan dengan percepatan progres penyakit, sedangkan asupan vitamin C dan B dapat meningkatkan jumlah CD4 dan memperlambat progres HIV menjadi AIDS.

Pada kondisi sariawan, pasien perlu menjaga kebersihan mulut, menghindari makanan panas, dan memilih makanan lunak seperti kentang tumbuk, telur orak-arik, dan daging cincang. Gunakan sedotan untuk minum dan hindari makanan yang terlalu pedas, manis, atau keras.

3) Stadium IV (Tahap Akhir AIDS)

Pada tahap ini pasien berada dalam kondisi terminal, dengan asupan oral rendah (< 30%) atau menolak makanan. Makanan mungkin diberikan dalam bentuk enteral atau kombinasi enteral dan parenteral. Masalah umum yang sering muncul adalah diare dan malabsorpsi.

Syarat Diet pada Stadium IV:
  • Tingkatkan asupan cairan untuk mempertahankan status hidrasi.
  • Berikan yoghurt atau makanan dengan kultur Lactobacillus acidophilus untuk mengurangi efek obat antiinfeksi jangka panjang.
  • Berikan makanan porsi kecil tetapi sering untuk meringankan kerja saluran cerna.
  • Berikan suplemen multivitamin untuk membantu penyerapan zat gizi.
  • Gunakan suplemen oral dengan densitas energi tinggi bila diperlukan.
  • Dukungan gizi dapat diberikan melalui jalur enteral atau parenteral.
  • Pemberian enzim pankreatik mungkin diperlukan dengan persetujuan dokter atau tim gizi.
  • Hindari kopi dan makanan mengandung sorbitol untuk mencegah diare.

Monitoring dan Evaluasi

Setelah dilakukan intervensi, maka perlu dilakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat output dan outcome. Evaluasi sebaiknya dilakukan rutin menurut rencana pelayanan gizinya. Intervensi sebaiknya menghasilkan hasil yang dapat dimonitor apakah tercapai atau tidak. Sebagai contoh tujuan intervensi gizinya adalah mempertahankan berat badan normal dengan memberikan diet ML TETP 1900, protein 50 g, serat sedang.

Monitoring yang dilakukan pertama kali sebaiknya adalah daya terima pasien terhadap makanan tersebut. Daya terima makan yang dimaksud adalah apakah makanan tersebut bisa dihabiskan, atau pasien masih terasa lapar. Selain itu apakah makanan tersebut dapat diterima oleh tubuh yang ditandai dengan tidak ada mual, muntah, diare, maupun konstipasi. Setelah itu baru dievalusi outcome dengan melakukan pengukuran antropometri, misalnya, berat badan. Apakah ada penambahan atau penurunan berat badan atau berat badan tetap sesuai dengan tujuan intervensinya dan lain-lain. Jika tujuan tidak tercapai perlu dilakukan perencanaan kembali sesuai dengan masalah dan tujuan yang ingin dicapai Hal lain yang perlu dimonitor dan dievaluasi adalah hasil pemerikasaan laboratorium terkait gizi yaitu lemak darah puasa; kadar insulin/glukosa darah; status protein; tekanan darah; kadar testosterone; jumlah sel CD4, dan beban virus

Saat ini pemerintah telah mensosialisasikan pedoman gizi seimbang (PGS) dan gerakan masyarakat sehat (GERMAS). Hal ini dapat anda gunakan sebagai bahan edukasi dalam pencegahan maupun penanggulangan penyakit HIV. Pedoman tersebut menyerukan bahwa kita perlu makan seimbang dan bervariasi dengan meningkatkan asupan buah dan sayur; membiasakan hidup bersih (misalnya cuci tangan sebelum makan) melakukan aktifitas fisik dan memonitor berat badan secara teratur dan melakukan pemeriksaan dini secara teratur dan berkala. Untuk lebih jelasnya, Anda dianjurkan untuk mencari tahu PGS dan GERMAS lebih dalam.