Penatalaksanaan Penyakit TBC
Penyakit TB merupakan penyakit saluran pernafasan yang berbahaya, karena bisa menjadi penyakit kronik yang panjang bahkan mematikan jika tidak melakukan pengobatan dengan baik. Kunci utama pengobatan adalah kepatuhan. Bakteri ini bisa sirna dari tubuh jika dilakukan pengobatan dengan terus menerus tanpa putus dalam jangka waktu minimal 6 bulan. Ironisnya jika pengobatannya tidak tuntas, kuman ini akan lebih ganas lagi penyerangnya sehingga obat standar akan kebal. Pengobatan akan efektif jika ditunjang dengan status gizi baik. Oleh karena itu ada 2 hal yang perlu dilakukan yaitu terapi obat dan terapi gizi medik.
Terapi obat
Pada dasarnya tujuan terapi obat pada penderita TB yang pertama adalah menyembuhkan pasien TB sampai sembuh benar. Tujuan yang kedua adalah mencegah kematian, kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan. Aktifitas obat TB didasarkan atas tiga mekanisme, yaitu aktifitas membunuh bakteri, aktifitas sterilisasi, dan mencegah resistensi. Bakteri TB adalah bakteri bandel, tahan terhadap asam, maka untuk menjamin kefektifannya obat jangan diberikan dalam bentuk tunggal tetapi harus kombinasi dari beberapa obat antibotik dan anti infeksi sintetis. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah cukup dan dosis tepat. Berdasarkan berbagai penelitian menyatakan bahwa pengobatan intensif selama 2 bulan jika dilakukan dengan benar, pasien dengan BTA positif bisa berubah menjadi negatif.
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan. Obat yang diberikan pada tahap awal atau intensif adalah isoniazid, rifampicin, ethambutol dan pyrazinamide. Kelompok obat ini disebut sebagai obat primer. Isoniazid adalah obat TB yang paling potensial dalam hal membunuh bakteri dibandingkan dengan rifampisin dan streptomisin. Rifampisin dan pirazinamid paling poten dalam mekanisme sterilisasi. Pada tahap ini obat harus diminum setiap hari dan perlu ada pengawasan secara langsung dari team kesehatan untuk mencegah kekebalan. Hal lain yang perlu dicermati adalah setiap obat berinteraksi dengan zat gizi. Selain itu bakteri TB sekarang ini cenderung resisten terhadap terapi obat, makanya strain dengan peningkatan virulensi telah muncul.
Asuhan Gizi
Telah diuraikan diatas bahwa tanda dan gejala pasien TB dengan gizi sangat dekat diantaranya gizi kurang, penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, lemas, sesak nafas, dan batuk darah. Oleh karena itu tujuan asuhan gizi diantaranya adalah mencapai dan mempertahankan berat badan normal; mengganti/memperbaiki defisiensi zat gizi yang hilang atau rusak; dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk mempercepat penyembuhan.
Oleh karena itu prinsip asuhan gizi adalah pemberian energi tinggi sesuai dengan penyakit infeksi lainnya yaitu 25-35 kkal/kg/hari; protein 1.5 -2 g/kg BB/hari untuk memperbaharui serum albumin dan memperbaiki keseimbangan nitrogen positif.; lemak cukup 25-30% total energi; vitamin yang perlu diperhatikan atau ditingkatkan pemenuhannya diatas AKG adalah vitamin C untuk mempercepat penyembuhan; vitamin K untuk mencegah perdarahan bagi pasien TB yang berat; vitamin B6 perlu jika pasien diberikan INH karena INH merupakan antagonisnya; sedangkan vitamin A dianjurkan sama dengan AKG ; zat besi da kalsium perlu diperhatikan paling tidak sama dengan AKG karena b pasien TB biasanya ada perdarahan dan kalsifikasi tulang. Bahan makanan sumber serat juga perlu diperhatikan untuk menghindari konstipasi.
Pemenuhan energi sangat diperlukan pada pasien TB maka agar pemenuhan energinya sesuai dengan kebutuhan pasien, sebaiknya dalam perhitungan kebutuhan energi menggunakan formula yang memperhitungkan faktor koreksi stress dan koreksi status gizi, karena pasien TB sangat individual. Demikian pula menghitung kebutuhan energi pada pada anak dapat digunakan berbagai cara seperti pada table 9.1. atau perhitungan berdasarkan rumus : BMR /hari = 1000 + (100 x umur dalam tahun). Sebagai contoh A, usia 9 tahun maka kebutuhan energinya adalah 1000 kkal + (9x100) kkal=1900 kkal (Narims & wils dalam NDA of the Philippines Foundation).
| BB 7–10 kg | BB 10–20 kg | BB 20–33 kg |
|---|---|---|
| Setiap 10 kg pertama: 100 kkal/kg BB | 10 kg pertama: 100 kkal/kg BB | 10 kg pertama: 100 kkal/kg BB |
| 10 kg kedua: 50 kkal/kg BB | 10 kg kedua: 50 kkal/kg BB | |
| Selebihnya: 20 kkal/kg BB |
Syarat diet yang perlu diperhatikan selain energi dan protein tinggi, lemak cukup adalah diet seimbang, bentuk makanan yang mudah dicerna dan hindari makanan yang menimbulkan gas seperti kobis, durian. Lobak, nanas, nangka dll). Porsi makan sebaiknya kecil tapi padat gizi dan frekuensi pemberiannya sering.
Issue lain yang perlu dipertimbangkan adanya interaksi obat dan zat gizi, maka jadwal minum obat sebaiknya ditehaui oleh ahli gizi sehingga dapat saling mengingatkan. Sebagai contoh obat isoniazid dimana peneyerapannya sering mengganggu penggunaan zat gizi maka obat ini sebaiknya diminum 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Obat ini selain menggangu penyerapan vitamin B6, juga berhubungan dengan metabolisme vitamin D, yang secara tidak langsung dapat menurunkan penyerapan kalsium dan phosphor. Oleh karena pemberian suplemen vitamin D sebaiknya perlu dipertimbangkan.
Monitoring dan evaluasi yang perlu dilakukan adalah melakukan pengukuran BB setiap minggu, disamping indikator keberhasilan asuhan gizi yang lain seperti nilailaboratorium dan gejala klinis maupun keluhan seperti demam, batuk malam hari dan lain-lain.