Asuhan Gizi Pada Saluran Pernapasan
Asuhan Gizi pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Ruang Lingkup PPOK

Seperti pada topik terdahulu sebelum anda melakukan asuhan gizi pada penyakit PPOK, Anda perlu memahami bagaimana kearakteristik penyakit ini, sehingga mengapa anda memilih makanan ini dan itu ada alasan yang jelas. Dengan demikian fungsi asuhan gizi sebagai salah satu jenis terapi dapat diandalkan dan hasil monitoring dan evaluasi mendukung indikator perbaikan penyakit.

Penyakit paru obstruktif kronis atau sering disingkat PPOK istilah yang digunakan untuk sejumlah penyakit yang menyerang paru-paru untuk jangka panjang. Penyakit ini adalah penyakit yang progresif dengan gangguan aliran udara di dalam paru paru disebabkan karena adanya inflamasi pada dinding saluran bronkus dan kerusakan dinding alveoli, sehingga pasien akan mengalami kesulitan dalam bernapas.

Etiologi

Ciri khas dari penyakit ini adalah ada bronkritis kronis dan emfisema. Bronkritis kronis merupakan cikal bakal dari PPOK yang ditandai dengan adanya peradangan dan timbulnya jaringan paruh pada dinding saluran bronkus yang yang menyebabkan gangguan pernapasan, produksi lender, dan batuk persisten. Penyebab utama bronkritis adalah asap rokok. Perempuan mempunyai resiko 2 kali dibanding laki-laki. Bronkritis kronik paling sering terjadi setelah usia 45 tahun.

Sedangkan emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Hal ini menyebabkan rusaknya kantung-kantung udara pada paru-paru yang terjadi secara bertahap. Kantung udara tersebut akan menggelembung dan mengempis seiring dengan tubuh kita ketika menarik dan menghembuskan napas. Kelenturan kantung udara akan menurun jika seseorang mengidap emfisema, akibatnya jumlah udara yang masuk akan menurun.

Patofisiologi

Awal terjadinya penyakit ini ada, adalah terpaparnya tubuh dengan asap rokok atau polutan udara serta bahan kimia dan lain yang menyebabkan respon peradangan. Kondisi ini menjadi penyebab menurunnya fungsi kantung kantung udara, meningkatnya pagositosis, dan menekan sejumlah imunitas /Ig A. Peradangan kronik ini menyebabkan hyperplasia sel mengeluarkan mucus/dahak, dan menyebabkan edema pada bronchus.

Dinding dari aliran udara menebal dan kelenjar mucus menjadi hiperplastik. Kerusakan kantung kantung udara tidak bisa membersihkan mucus dari aliran udara sehingga pasien tidak mampu meningkatkan kerja pernafasan. Patofisiologi dari emphysema yaitu hilangnya dan menipisnya elastisitas jaringan paru, dan ini sering kali muncul lebih lama dibandingkan dengan bronkritis. Hilangnya jaringan paru akibat dari kehilangan/menipisnya area permukaan dan menurunnya sejumlah surfaktan menyebabkan menjadi kaku tidak elastis dan menyebabkan kesulitan bernafas. Fase akhir dari emphysemia akan menyebabkan hypoxemia.

Gejala-gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga berat. Pada tahap-tahap awal, PPOK jarang menunjukkan gejala atau tanda khusus. Gejala akan muncul ketika sudah terjadi kerusakan yang signifikan pada paru-paru. Gejala diantaranya batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh; sering tersengal-sengal, walaupun melakukan aktifitas ringan seperti memasak atau mengenakan pakaian; mengi atau napas sesak dan berbunyi; lemas; sering mengalami infeksi paru; ada penurunan berat badan. Gejala ini hilang tumbuh tergantung kondisi penderita, namun semakin tambah usia biasanya makin sering muncul gejala dan biasanya makin parah. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan jelas dan tanda inflasi paru.

Faktor Risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis

PPOK bisa disebabkan oleh berbagai hal. Sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap PPOK meliputi: terpapar rokok, terpapar polutan, usia dan genetik. Diantara faktor resiko yang paling utama adalah asap rokok yang berasal dari kebiasaan merokok atau berasal dari lingkungan. Oleh karena itu pada saat menanyakan riwayat merokok perlu jeli perokok aktif, perokok pasif atau bekas perokok. Faktor resiko lain adalah terpapar polutan yang berasal dari kendaraan, debu dan bahan kimia dari lingkungan atau tempat kerja. Hal lain yang tidak kalah penting adalah ada riwayat infeksi saluran nafas bawah yang sering berulang.

Diagnosis Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Diagnosis PPOK di tegakkan berdasarkan gambaran klinis melalui anamnesis, keluhan dan riwayat penyakit dan faktor predisposisi; pemeriksaan penunjang, pemeriksaan rutin dan pemeriksaan khusus. Pemeriksaan penunjang tes pernapasan dengan spirometer (pemeriksaan spirometri), pemeriksaan darah; rontgen paru-paru dan jantung, CT scan, Pemeriksaan jasmani dan pemeriksaan dahak.